Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Renault dan Nissan Terancam Bangkrut karena Ghosn dan Corona

Senin, 25 Mei 2020 | 09:43 WIB Last Updated 2020-05-25T02:44:09Z
Mobil Renault. (CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP)

Jakarta, Produsen Mobil dengan bermerek Renault dan Nissan di ambang kebangkrutan usai bermasalah dengan seseorang yang bernama "Carlos Ghosn" yang melarikan diri dari Jepang pada akhir 2019 kemudian disusul paceklik saat pandemi virus corona (Covid-19) pada tahun ini.

Kerjasama Perusahaan Renault dan Perusahaan Nissan mulai bergoyang kencang ketika Salah seorang Mantan Karyawannya yang bernama "Ghosn" kabur dari Jepang saat dia sedang menunggu persidangan atas tuduhan kecurangan finansial dari Nissan. Pelarian Ghosn menjadi sorotan global sebab memanfaatkan bantuan profesional, menipu perusahaan jet pribadi, dan membuat malu Jepang.

Ghosn terbang ke Libanon usai kabur dari Jepang mengatakan dia melakukannya sebab merasa sistem peradilan Jepang tidak adil, menghindari persekusi, dan menuduh eksekutif Nissan ingin menjebaknya.


Ghosn adalah sosok yang membangkitkan Renault dan Nissan dari keterpurukan. Pada 2017 dan 2018 aliansi itu merupakan salah satu produsen otomotif terbesar di dunia dengan total penjualan 10,6 juta unit mobil penumpang dan komersial.

Saat masih memimpin aliansi Ghosn pernah menargetkan total penjualan mencapai 14 juta pada 2022. Namun target itu saat ini dinilai tak akan pernah bisa tercapai.

Pembukuan kinerja Renault pada tahun lalu mencatatkan kerugian yang pertama kali akibat anjloknya penjualan. Perusahaan juga dihantam dampak Covid-19 yang melumpuhkan lini produksi dan penjualan, terutama di Eropa.

Sementara Nissan yang 43 persen sahamnya dimiliki Renault tengah bersiap mengungkapkan kerugian besar untuk pembukuan 2019/2020. Rencananya ini akan diumumkan pada Kamis mendatang.

Melansir AFP, Nissan menilai prioritasnya saat ini terpusat pada tiga pasar inti yaitu Jepang, China, dan Amerika Utara sebab perusahaan tengah merugi besar di kawasan Eropa.

Nissan telah menutup beberapa pabrik, salah satunya di Indonesia. Nissan juga akan memangkas sekitar 15 persen jumlah karyawan global secara bertahap hingga awal 2023.

Anggota lain dalam aliansi usaha ini, Mitsubishi Motors, yang sepertiga sahamnya dimiliki Nissan turut mengalami permasalahan serupa. Mitsubishi disebut akan mengungkapkan rencana bisnisnya pada akhir Juli atau awal Agustus.

Kabar baiknya pandemi telah mengalihkan pemberitaan terkait kontroversi Ghosno.

Analis otomotif Bloomberg Intelligence Tatsuo Yoshida menyebut pemberitaan negatif Ghosn bakal dikesampingkan sebab Covid-19 saat ini dirasa lebih penting.

"Nissan, Mitsubishi, dan Renault tak punya banyak waktu untuk kalah jika ingin bertahan dari krisis ini," katanya.

Pemerintah Prancis juga menyuarakan kekhawatiran mereka akan potensi kebangkrutan Renault jika tak mendapatkan bantuan. Pemerintah Prancis memiliki 15 persen saham Renault. (cnnindonesia/wel/wis)
×
Berita Terbaru Update